![]() |
| Abu Nawas |
Abu Nawas – Abu Ali Al Hasan bin (anak dari) Hani Al-Hakami
lahir pada tahun 750 meninggal tahun 810, seorang Abu Ali al-Hasan ini biasanya
dikenal pada zaman sekarang sebagai Abu-awas atau Abu-Nuwas dengan tulisan
arabnya: ابونواس. Julukan Abu
Nawas berasal dari bahasa Arab untuk Abu ali Al Hasan yang memiliki
Arti “seorang pujangga Arab”. Dia lahir di kota Ahvaz bagian dari negeri
Persia, mengalir di dalam dirinya dara dari dua bangsa yaitu: Arab dan Persia.
Abu Nawas adalah sebagai salah seorang penyair
yang terbesar dan terkenal di sastra Arab klasik. Dia juga salah seorang yang
sangat populer dan sering muncul hingga beberapa kali dalam sserita Seribu Satu
Malam yang terkenal di negara Indonesia ini dengan cerita-ceritanya yang lucu
dan mendidik karna terdapat banyak hikmah dari kisah-kisah yang dilakoninya.
Ayahnya, Hani
al-Hakam adalah anggota dari legiun militer Marwan II. Sedangkan ibunya Jalban,
wanita dari Persia yang bekerja sebagai seorang pencuci kain wol. Sejak kecil dia
telah yatim. Sang ibu lalu membawanya ke Bashrah bagian dari negara Irak. Di
kota ini Abu awas mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan.
Di masa mudanya
penuh dengan perilaku kontroversial membuat Abu Nawas tampil
sebagai tokoh unik pada khazanah sastra Arab. Meski begitu, sajaknya sarat
dengan nilai-nilai sprirtual yang memiliki
maksud tentang rasa kemanusiaan serta keadilan. Abu Awas mempelajari sastra
Arab pada Abu Ubaidah dan Zaid al-Anshari. Dia pun mempelajari Al-Quran pada
Ya'qub al-Hadrami. Sedangkan Ilmu Hadis dia belajar pada Muktamir bin Sulaiman,
Abu Walid bin Ziyad, Azhar bin Sa'ad as-Samman dan Yahya bin Said al-Qattan.
Pertemuannya
dengan seorang penyair Kufah (Walibah bin Habab al-Asadi), memperhalus tata dan
gaya bahasanya serta membawanya kepuncak kesusastraan Bahasa Arab. Walibah tertarik
pada bakat Abu Awas kemudian membawanya ke Ahwaz, kemudian ke Kufah. Di Kufah
bakat dari Abu awas digembleng. Ahmar memerintahkan Abu Awas untuk tinggal di
pedalaman, hidup dengan orang-orang Arab Badui dalam memperhalus dan memperdalam
bahasa Arab.
Kemudian dia
pindah ke Baghdad. Di pusat dari peradaban Dinasti Abbasyiah ini Dia berkumpul bersama
para penyair terkenal. Berkat kehebatannya dalam menulis puisi, Abu Nawas
bisa berkenalan para bangsawan. Namun kedekatannya dengan para bangsawan
puisi-puisinya di masa itu berubah yang cenderung memuja dan menjilat para
penguasa.
Abu Nawas digambarkan sebagai seorang penyair multivisi, berlidah
tajam, penuh canda, pengkhayal ulung serta tokoh terkemuka sastrawan. Tetapi sayang, karyanya justru jarang terkenal di dunia
intelektual. Dia hanya dipandang sebagai seorang yang suka bertingkah lucu serta
tidak lazim. Pandai menulis puisi yang indah hingga menarik perhatian dari Khalifah
Harun al-Rasyid.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar